Lempar martil pertama kali diperlombakan dalam pesta Olimpiade pada tahun 1900 dan sejak itu menjadi salah satu nomor tradisional untuk putra. Dan seperti tolak peluru, lempar cakram dan lempar lembing, lempar martil segera akan menjadi nomor lempar yang diikuti putri dalam Olimpiade.

Lempar martil dianggap sebagai salah satu nomor lempar yang paling rumit dan unik di mana atlet mengulangi gerakan yang sama lebih dari satu kali (melalui 3 atau 4 putaran). Jika dilakukan dengan benar, putaran secara berurutan akan meningkatkan kecepatan martil, namun jika kesalahan terjadi, kesalahan itu secara bertahap akan mempengaruhi putaran berikutnya.

Walaupun atlet mengklaim lemparan martil sebagai nomor lempar yang paling memuaskan, lempar lembing selalu disalahkan sebagai penyebab rusaknya lapangan. Pada tingkatan yang lebih tinggi “penolakan” ini berawal dari kenyataan bahwa nomor tersebut dapat menimbulkan bahaya dan membutuhkan tindakan pencegahan yang lebih ketat. Selain itu, benturan martil ke permukaan lapangan menyebabkan daerah tersebut tidak dapat digunakan untuk aktivitas lain dengan aman (kecuali nomor lempar)

Tahun-tahun dewasa ini, atlet Rusia telah memperbaharui teknik lempar lembing, mengubah footwork dan bidang yang diikuti martil, namun teknik tradisional sudah lebih dari cukup. Setelah mendapatkan pengalaman, atlet dapat berusaha untuk lebih memantapkan teknik yang digunakan.